Minggu, 13 November 2016

Pertemuan

Hari ini entah kenapa aku ingin membuat artikel tentang kamu, nak. Sepertinya 9 tahun berlalu tak cukup bila kamu hanya harus mengalami perjalanan hidupmu tanpa tahu bagaimana aku berjuang untuk menghidupimu. Kelak bila kamu sudah besar nanti, kamu tahu bagaimana caranya berkorban dan tahu bagaimana menghargai pengorbanan seseorang. Ingat, nak...sesakit apapun itu, kamu harus mengutamakan kejujuranmu. Ingat itu...

3 Agustus 2008, kamu resmi aku rawat. Hari itu hari terindah untuk aku dan suamiku. Selepas pernikahan kami yang tak kunjung memiliki anak setelah 4 tahun kurang pernikahan kami, Allah mempertemukan kita dalam ketidaksengajaan. Tapi tentu ini adalah kesengajaan Allah untuk hidupku.

Atas keinginan suami, kala itu dia ingin agar kami merawatmu. Kasihan sekali kamu waktu itu. Ditelantarkan kedua orang tua kandungmu karena mereka harus mengambil jalan mereka masing-masing. Entahlah apa penyebabnya.

Berbagai perlengkapan bayi telah kita siapkan. Seperti hari-hari setelah melahirkan, banyak tetangga komplek datang hanya untuk melihat bayi lucu itu. Bangga sekali aku waktu menggendongmu, nak. Kamu lucu, dan cepat akrab dengan siapapun.

Hari pertama, bude Puji tetanggaku mengajariku bagaimana memandikanmu. Merawatmu, mengganti popokmu. Seharian itu, dirumah seperti ada bayi baru lahir yang butuh pertolongan pertama perawatan 24 jam. Semuanya gembira menyambutmu.

Keesokan harinya, aku sendirian yang menjaga dan merawatmu. Memandikanmu, menyuapimu dengan masakan buatanku. Dan kamu mulai terawat bersih dan makin montok. Meski kita hanya berdua dirumah, karena suamiku pulang dua minggu sekali, tapi aku bahagia karena ada kamu menemaniku.

Hari berganti, entah minggu ke berapa, ibu kandungmu mencarimu. Terus menhubungiku dan mengancamku. Katanya mereka akan melaporkan aku pada polisi bila aku tidak menyerahkanmu pada mereka.

Lemas badan ini, nak. Apa salahku, aku yang telah dengan ikhlas merawatmu itu malah akan dilaporkan polisi. Aku minta saja pada mereka untuk datang melihatmu disini.

Keesokan harinya ibu kandungmu dan kakekmu datang. Menjengukmu. Berbasa-basi, dan memintamu untuk mereka bawa. Aku tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Sambil menangis kencang kamu pergi meninggalkanku. Ibu kandungmu membawamu epergi. Dan aku, aku harus ikhlas. Karena dia ibu kandungmu.

Berhari-hari aku bersedih. Menyaksikan betapa pahit kejadian yang aku alami. Selang beberapa hari ibumu menelpon dan mengatakan padaku bahwa ibumu tak sanggup merawatmu. Dan berencana membawamu kembali padaku. Terima kasih Tuhan, ucapku waktu itu.

Keesokan harinya kamu kembali diantarkan ibumu. Dan setelah itu, kamu selalu ada bersamaku. Kembali merajut kebahagiaan bersama aku dan suamiku. Umy dan Aby mu...

Kamu tumbuh dengan banyak kasih sayang dari kami, tetangga komplek dan ibu kandungmu yang masih menengokmu satu bulan sekali kerumah. Terkadang mereka bermalam hanya untuk bisa tidur bersama denganmu. Bermain denganmu dan membuat kamu ingat untuk sementara waktu pada mereka. Hanya berselang 3 bulan, ibumu tak pernah kembali datang karena sudah menikah lagi dan memulai kehidupan baru bersama suami barunya. Dan kita, semakin riuh dengan semua keceriaan dan kepintaranmu.

Kamu mulai belajar bicara, merangkak, dan berjalan. Semuanya berlalu begitu cepat. Hingga terakhir yang aku ingat, suamiku menceraikanku atas permintaan orang tuanya yang ingin memiliki anak dari darah daging suamiku. Aku masih tetap tak bisa berbuat apa-apa. Keberadaanmu yang menguatkan aku hingga kini, nak!!

Entahlah, aku tidak ingin mengingat kepedihan saat itu. Saat sembilan hari aku dan kamu ditelantarkan olehnya. Suamiku dan Abymu. Sembilan hari kita berjuang menghidupi sendiri. Berjualan jagung rebus berdua. Lucu sekali kamu kala itu. Berteriak membantu aku menjajakan jagung rebus dengan suara cadelnya. Sungguh aku terharu. Kamu masih sanggup melakukannya, meski untuk yang kedua kalinya ditelantarkan.

Aku tak ingin mengingat lagi masa-masa menyedihkan itu. Tapi keberadaanmu membuatku kuat dan membuatku sanggup menjalani semuanya dengan ikhlas dan tegar. Terima kasih, nak...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar